Raudatul Jannah – Kisah masa kecil Nabi Muhammad SAW dimulai pada 12 Rabiul Awal Tahun Gajah atau 570 Masehi di Kota Makkah. Informasi ini bersandar pada hadits yang diriwayatkan Imam Ibnu Ishaq dari Ibnu Abbas. Rasulullah SAW lahir pada hari Senin, pada malam tanggal dua belas bulan Rabiul Awal.
وُلِدَ رَسُولُ اللَّهِ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ، لِاثْنَتَيْ عَشْرَةَ لَيْلَةً خَلَتْ مِنْ شَهْرِ رَبِيع الْأَوَّلِ، عَام الْفِيلِ
Artinya, Rasulullah SAW dilahirkan pada hari Senin, tanggal dua belas bulan Rabiul Awal, pada Tahun Gajah.
Lahir Yatim di Tahun Gajah
Nabi Muhammad SAW lahir dalam keadaan yatim. Ayahnya, Abdullah, wafat sebelum beliau lahir. Ibunya bernama Aminah, seorang perempuan Quraisy yang dikenal mulia. Tahun kelahiran Nabi dikenal sebagai Tahun Gajah, merujuk pada peristiwa gagalya pasukan Abrahah menyerang Ka’bah. Allah SWT menggagalkan serangan itu melalui burung ababil yang melempar batu, sebagaimana tercatat dalam Al-Qur’an.
Diasuh di Pedalaman Arab
Sesuai tradisi Arab saat itu, Nabi Muhammad SAW kecil diasuh oleh Halimah As-Sa’diyah dari Bani Sa’ad. Tujuannya agar anak tumbuh kuat dan fasih berbahasa Arab Badui. Moenawar Khalil dalam Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad menjelaskan bahwa lingkungan pedalaman menjaga kemurnian bahasa dan karakter.
Sejak Nabi Muhammad SAW tinggal bersama Halimah, perubahan nyata terjadi. Kampung Bani Sa’ad yang gersang menjadi subur. Kambing Halimah menghasilkan susu melimpah. Penduduk lain bahkan menggembalakan ternak mereka di ladang Halimah karena keberkahan itu.
Peristiwa Dada Dibelah Malaikat
Peristiwa pembersihan hati Nabi Muhammad SAW terjadi saat beliau masih kecil. Riwayat ini tercantum dalam Sirah Nabawiyah karya Syaikh Shafiyur Rahman al-Mubarakpuri. Saat menggembala kambing, dua malaikat berpakaian putih mendatangi Nabi Muhammad SAW.
Malaikat Jibril membelah dada beliau, mengeluarkan bagian yang disebut sebagai pengaruh setan, lalu membersihkan hati Nabi Muhammad SAW dengan air zamzam di bejana emas. Setelah itu, hati beliau dikembalikan ke tempat semula. Anas RA menyatakan bekas jahitan di dada Nabi Muhammad SAW terlihat jelas.
Peristiwa ini terjadi beberapa kali sepanjang hidup Nabi Muhammad SAW, termasuk sebelum Isra Mi’raj. Maknanya dijelaskan dalam buku Al-Qalb: Kajian Saintis dalam Al-Qur’an. Pembersihan hati ini melambangkan kelapangan dada dan kesiapan menerima wahyu, sebagaimana tercantum dalam Surah Taha ayat 25 dan Az-Zumar ayat 22.
Kehilangan Ibu di Usia Enam Tahun
Saat berusia 6 tahun, Nabi Muhammad SAW kehilangan ibunya, Siti Aminah. Ia wafat setelah sakit sepulang ziarah ke makam Abdullah dan dimakamkan di desa Abwaa’. Nabi Muhammad SAW kembali ke Makkah bersama Ummu Aiman, pelayan setia keluarga yang kelak dianggap seperti keluarga sendiri.
Dalam Asuhan Kakek dan Paman
Setelah itu, Nabi Muhammad SAW diasuh oleh Abdul Muthalib, kakeknya. Abdul Muthalib sangat menyayangi cucunya dan memberi tempat istimewa baginya. Namun kebersamaan itu hanya berlangsung dua tahun. Saat Nabi Muhammad SAW berusia 8 tahun, Abdul Muthalib wafat.
Pengasuhan kemudian dilanjutkan oleh Abu Thalib, paman Nabi Muhammad SAW. Wasiat Abdul Muthalib menyerahkan Nabi Muhammad SAW kepada Abu Thalib didasari hubungan darah yang dekat. Dalam asuhan pamannya inilah, tanda-tanda kenabian mulai dikenali oleh tokoh agama yang ditemuinya.
Masa Kecil yang Membentuk Pemimpin Dunia
Masa kecil Nabi Muhammad SAW penuh kehilangan dan ujian, namun setiap peristiwa membentuk kepribadian beliau. Beliau tumbuh sebagai pribadi jujur, kuat, dan berakhlak tinggi. Semua fase ini menjadi fondasi sebelum Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW sebagai penutup para nabi dan rasul serta teladan bagi seluruh umat manusia.